IKADI Dukung Raperda “Pelarangan Miras”

Sabtu, 22 Februari 2014

Islam adalah agama yang membawa Rahmat bagi kehidupan ini. Segala macam aktifitas yang merusak, baik merusak jiwa, fisik, maupun lingkungan adalah hal yang bertentangan dengan nilai nilai islam. Inilah yang terjadi pada minuman beralkohol yang dikenal dengan istilah MIRAS (Minuman Keras). Miras berdampak merusak baik orang yang menkonsumsinya, dan juga akan menimbulkan gangguan pada lingkungan yang ada disekitarnya. Beberapa dampak negatif yang ditimbulkan antara lain:
  1.  GMO  (Gangguan Mental Organik), yang mengakibatkan perubahan perilaku, misalnya peminum jadi berperialku kasar, sehingga bermasalah dengan keluarga, masyarakat,  dan  kariernya, suka berbicara  melantur,   mudah  tersinggung,  dll.
  2. Merusak Daya Ingat, orang yang kecanduan minuman beralkohol, akan terhambat perkembangan memori dan sel-sel otaknya.
  3. Gangguan Jantung, mengonsumsi minuman beralkohol lama kelamaan Jantung tidak akan berfungsi dengan baik.
  4. Gastrinitis, kecanduan minuman keras menyebabkan radang, atau luka pada lambung.
  5. Paranoid, gangguan kejiwaan. Berperilaku kasar terhadap orang-orang yang ada disekitarnya, atau seperti ada bisikan-bisikan untuk melakukan sesuatu, dan ia akan melakukan sesuatu diluar nalarnya.

Dari kacamata hukum, hak untuk mendapatkan lingkungan yang sehat dalam kehidupan merupakan  Hak Asasi  Manusia   (HAM)  yang dijamin dalam  Pasal 28H ayat (1)  UUD Negara  Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945) “Setiap orang berhak hidup sejahtera   lahir batin,   bertempat  tinggal,  dan   mendapatkan  lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan “. Hak ini harus dijunjung tinggi dan dihormati oleh semua warga negara Indonesia. Oleh karena itu mereka yang berinteraksi dengan MIRAS: memproduksi, memperdagangkan, atau kah menkonsumsinya dapat dikatakan sebagai pihak yang melanggar undang undang, karena akan menciptakan kekacauan dan tidak tenangnya kehidupan ber masyarakat.
Disi lain, di dalam UUD 1945 Pasal 29 ayat 1 menyebutkan bahwa negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya kehidupan bangsa dan negara ini terbingkai oleh nilai nilai agama.  Oleh karena itu mestinya sebagai negara  yang   beragama,  pemerintah akan   mudah   mengatur perkembangan minuman beralkohol atau yang sering juga disebut minuman keras (miras),  yang jelas jelas diharamkan oleh semua Agama.
Miras adalah pintu lebar bagi tersebarnya HIV/AIDS dimana Solo telah menjadi kota tertinggi se Jateng jumlah penderita AIDS nya dgn jumlah pengidap sebanyak 627 orang (pada tahun 2011) dan terus meningkat. Sebagai pengayom bagi masyarakat, pemerintah kota berkewajiban utk melindungi rakyatnya dari segala macam ancaman dan bahaya yang merugikan kehidupan mereka. Pelarangan ini berlaku umum karena dampak kerusakan yang ditimbulkannya jauh lebih luas dan lebih besar dibanding keuntungan bisnisnya.
Masyarakat kota Solo khususnya, dan bangsa Indonesia secara umum, mestilah sadar bahwa larangan MIRAS lebih dikarenakan bahaya minuman keras itu sendiri dalam kehidupan manusia. Bahkan pada tahun 1986, preseiden AS (reagen) melakukan kampanye anti MIRAS ini “Say no to Alcohol”. Reagen melakukan hal ini bukanya karena dia merujuk pada nilai nilai Islam, melainka dia memahami bahayanya MIRAS bagi kehidupan universal
Bagi kita ummat Islam, kita harus yakin bahwa  Islam mengatur ummatnya, sehingga kehidupanya lebih baik dan berkah. Karena bahayanya bagi kehidupan itulah, makanya Allah jelas jelas mengharamkan MIRAS ini (QS Al Maidah ayat 90-91). Berangkat dari hal diatas PD IKADI Kota surakarta menyatakan sikap:

  1. 1    Miras adalah minuman yang jelas jelas diharamkan oleh Allah SWT, dan menjadi sumber munculnya derevasi kejahatan/kerusakan/perilaku maksiyat lainya.
  2.       Miras akan memberikan dampak negatif bagi kehidupan ini secara universal, oleh karena itu harus dijauhkan dari masyarakat kota solo, dan bagsa Indonesia secara umum.  
  3.        IKADI Kota Surakarta Mendukung perda “pelarangan MIRAS”, bukan Perda “pengaturan peredaran dan penjualan MIRAS”, sehingga masyarkat kota surakarta khususnya, dan bangsa indonesai umumnya akan terselamatkan dari bahaya yang lebih besar lagi.

Surakarta, 19 Februari 2014


PD IKADI Kota Surakarta

Continue Reading | komentar

Pelatihan Da'i Remaja Kota Surakarta Tahun 2014

Peserta Da'i Remaja
Suasana di Balai Pertemuan Bakorwil II  di tengah kota Surakarta mulai riuh dengan kehadiran peserta pelatihan Dai Muda. Pelatihan yang diadakan mulai tanggal 10 s.d 12 Februari 2014 diikuti perwakilan Rohis Sekolah di Kota Surakarta. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Pengurus Daerah IKADI Solo dengan Pemerintah Kota Surakarta.
Acara yang dibuka oleh Nurul Umam Supraptono Selaku ketua Panitia menyampaikan "Pelatihan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua, selaku Ketua Panitia kami berterima kasih atas kerjasama pihak IKADI Solo yang telah membantu mensukseskan acara pelatihan dai muda.".


Ketua IKADI SOLO Ust. Fatchul Arifin, ST. MT memberikan materi "Fiqud Da'wah"

Acara pelatihan menghadirkan beberapa pembicara diantaranya

  1. Ust. Abdul Hakim, S.HI 
  2. Ust. Hatta Syamsudin, LC
  3. Ust. Fatchul Arifin, S.T., M.T
  4. Ust. Tri Bimo Soewarno, LC.MA
  5. Ust. M. Widodo, SPd,MPd
  6. Ust. Syaifuddin Zuhri, SAg
Dalam acara yang berlangsung 3 hari ini berjalan lancar. Peserta mengikuti acara dengan antusias. Dalam acara ini juga dilakukan Workshop.


Ust. Hatta Syamsudin memberikan materi "Bekal Para Dai"

Pelatihan Dai Remaja ini diharapkan mampu mengasah kemampuan kader-kader muslim dalam menyampaikan ayat-ayat Allah SWT.
Akhir acara ini ditutup dengan foto-foto bersama peserta, Asatidz IKADI dan Panitia.
Foto bersama Asatidz, peserta dan Panitia Pemkot Surakarta
Foto bersama panitia Pemerintah Kota Surakarta dan Pengurus PD IKADI Solo


Continue Reading | komentar

Ustadz Satori: Ikadi Khawatirkan Umat Jauh dari Masjid

Minggu, 09 Februari 2014


JAKARTA -- Berkembangnya masjid agung yang megah dan besar di berbagai daerah di Indonesia memberi kebanggaan tersendiri bagi umat Islam. 
Namun, di sisi lain kondisi ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi ulama. Sebab, pembangunan masjid sering kali tidak dibarengi dengan semangat umat untuk beribadah.
Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof.Dr. Achmad Satori Ismail menyatakan, gejala semakin sepinya masjid-masjid di Indonesia ini sudah terjadi lama. 
Namun, dalam satu dekade terakhir, fenomena ini terjadi semakin kontras di tengah gencarnya pembangunan masjid raya dan masjid agung. "Masjid semakin banyak dan sangat megah, tapi sepi atau bahkan tidak ada jamaahnya," kata Satori.
Menurut dia, fenomena ini harus menjadi perhatian para ulama dan pemda. Sebab, kata Satori,  masyarakat Islam yang kuat adalah masyarakat yang dekat dengan masjid. 
Karenanya, sambung Satori, Ikadi mengusulkan kepada pihak terkait agar dapat mengaktifkan kembali pembinaan masyarakat berbasis masjid.
Selain itu, Ikadi juga berharap, sekolah—khususnya sekolah Islam—dapat memperbanyak kegiatan dan aktivitas siswa di masjid.
Langkah ini sebagai metode mendekatkan generasi muda dengan masjid. "Orang tua pun berperan besar mengajarkan generasi muda dekat dengan masjid," ujarnya.
Di sisi lain, menurut Satori, sistem pengelolaan masjid harus diperbaiki. Pengurus masjid diharapkan dapat menggiatkan setiap aktivitas ibadah di masjid atau di lingkungan masjid. 
Selain shalat berjamaah dan majelis taklim, masih banyak potensi kegiatan lain yang dapat dilakukan di lingkungan masjid. Misalnya, pengembangan ekonomi masyarakat serta forum diskusi dan kajian agama. 

Continue Reading | komentar

Keutamaan Menjaga Lisan(Hifzul Lisaan) oleh Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA

Baiknya keberislaman seseorang bisa dilihat dan diketahui diantaranya dari ucapannya. Satu waktu Rasulullah saw pernah ditanya: “Keislamanan bagaimana yang utama? Beliau menjawab: siapa yang perkataan dan perbuatannya menjadikan orang Islam selamat (tidak terganggu). (HR. Bukhari dan Muslim). Betapa pentingnya menjaga lisan, ia diumpamakan bagai icon dari beragam amal perbuatan seseorang. Rasulullah bersabda: “Setiap kali manusia memasuki pagi hari maka seluruh anggota tubuh merendahkan lisan dan berkata kepadanya: takutlah kepada Allah dalam bersama kami, karena kami tergantung kepadamu, jika kamu baik kami ikut baik, dan jika kamu menyimpang kami jadi menyimpang juga”. (HR. At-Tirmidzi).

Dalam hadits lain Rasulullah menegaskan diantara kesempurnaan iman dan islam seseorang adalah menjaga lisan dari perkataan keji dan munkar. Sabdanya berbunyi: “Diantara sifat orang mukmin adalah ia menjaga lisannya dari membahas aib seseorang dan perkataan kotor”. (HR. At Tirmidzi). Rasulullah juga bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata baik atau berdiam”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Membiasakan berkata baik atau berdiam dari perkataan buruk menjadi sifat Mukmin sejati. Sebaliknya, perkataan buruk memiliki efek dan tempat yang buruk dalam Islam. Perkataan yang mencela, mencaci dan sejenisnya tidak hanya dibenci oleh manusia secara fitrah, tetapi juga disalahkan oleh Malaikat. Satu waktu Rasulullah sedang berkumpul bersama para Sahabat, tiba-tiba datang seseorang mencaci Abu Bakar. Abu Bakar diam dan tidak merespon. Kemudian ia kembali mencaci, Abu Bakar tetap diam dan tidak merespon. Ketiga kali ia kembali mencaci, dan Abu Bakar meresponnya. Maka Rasulullah beranjak meninggalkan majelis. Abu Bakar mengikuti Rasulullah dan bertanya: “Apakah engkau marah kepadaku wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: “Malaikat telah turun dari langit, menyalahkan perkataan orang tadi, namun saat engkau mengomentarinya datanglah setan, dan aku tidak mendatangi tempat jika di sana setan hadir”. (HR. Abu Dawud).

Menjaga lisan menjadi perbuatan yang amat mulia dalam islam. Karena itu siapa mampu menjaga lisannya, ia berpeluang besar mendapat jaminan rumah di Surga Allah SWT. Sahal bin Sa’ad meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang menjamin untukku (menjaga) antara dua jenggotnya dan antara dua kakinya, niscaya aku jamin untuknya surga.” (HR. Bukhari).

Sebagaimana hati, sejauh mana penjagaan dan pengendalian terhadap lisan, itu menjadi ukuran baikatau buruknya amal seseorang. Maka, antara hati dan lisan saling berkaitan dan mempengaruhi amal perbuatan. Rasulullah saw bersabda: “Tidak lurus iman seseorang hingga lurus hatinya, dan tidak lurus hati seseorang hingga lurus lisannya”. (HR. Ahmad).

Menjaga lisan berarti tidak berbicara atau berugkap kecuali dengan baik, menjauhi perkataan buruk dan kotor, menggossip (ghibah), fitnah dan adu domba.Menjaga lisan merupakan perkara yang tidak boleh dianggap remeh, karena setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap perkataannya. Firman Allah berbunyi: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS. Qaaf: 18).

Adab-adab berbicara dalam Islam:
a.      Tidak berbicara kecuali dengan perkataan yang bisa mendatangkan kebaikan dan manfaat atau mencegah keburukan bagi dirinya atau orang lain.
b.      Mencari waktu yang tepat, sebagaimana kata hikmah: “Setiap tempat dan waktu ada pembicaraannya tersendiri”
c.       Memilih bahasa yang digunakan. Bahasa bisa menjadi tanda dan cermi bagi akal dan adab seseorang
d.      Tidak berlebihan dalam memuji dan mencela. Belebihan dalam memuji adalah bentuk dari riya’ dan mencari muka, dan berlebihan dalam mencela adalah bentuk dari permusuhan dan balas dendam.
e.      Tidak menyenangkan manusia dengan cara mengucapkan apa-apa yang membuat Allah SWT murka. Sabda Rasulullah saw berbunyi: “Siapa yang membuat manusia senang dengan melakukan perkara yang mendatangkan amarah Allah SWT, maka ia dan urusannya akan diserahkan kepada manusia, dan siapa yang membuat manusia marah karena ia melakukan perkara yang membuat Allah ridha, maka Allah akan menjamin baginya perlindungan dari perlakuan manusia”.(HR. At-Tirmidzi).
f.        Tidak mengobral janji-janji yang sangat sulit ditepati. Allah SWT berfirman: “"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS. As Shaff:2-3).
g.      Tidak berbicara keji dan kotor, dan tidak menyimak orang yang berbicara keji dan kotor.
h.      Menyibukkan lisan untuk berzikir.

Bagaimana dengan gosip atau ngomongin aib orang atau dalam bahasa agama disebut ghibah? Dalam kondisi tertentu ghibah diperbolehkan.

Gosip atau dalam bahasa Islam adalah ghibah pada dasarnya merupakan diantara penyakit lisan yang sangat berbahaya, sehingga Allah SWT mengumpamakan siapa yang menjelekkan dan membicarakan aib seseorang dengan memakan bangkai saudaranya sendiri. “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12).

Rasulullah pernah menerangkan maksud dari ghibah“Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah? Sahabat menjawab: Allah dan rasulNya yang mengetahui itu. Rasul bersabda: engkau menyebut tentang saudaramu dengan apa yang ia benci. Sahabat bertanya: Jika pada dirinya benar apa yang aku katakan. Rasul menjawab: jika yang engkau sebutkan benar-benar ada pada dirinya, itulah ghibah, dan jika apa yang engkau sebutkan tidak ada pada dirinya itu adalah kedustaanmu atasnya”. (HR. Muslim).

Ghibah menghantarkan kepada permusuhan, terputusnya hubungan silaturahim, menanam benih kebencian dan iri hati. Ghibah bisa merusak ibadah seorang Muslim. Muslim yang berpuasa namun melakukan ghibah, pahala puasanya akan lenyap, begitu juga dengan ibadah lainnya. Diriwayatkan bahwa dua orang perempuan berpuasa pada zaman Rasul saw membicarakan aib seseorang. Rasulullah mengetahui hal itu dan berkata tentang mereka: “Mereka berpuasa dari apa yang dihalalkan, tetapi berbuka dengan apa yang diharamkan”.(HR. Ahmad). Maksudnya mereka berdua berpuasa dari makan dan minum yang hukum awalnya adalah halal, tetapi ketika membicarakan aib seseorang yang haram dilakukan, Allah SWT tidak menerima ibadah puasa tersebut, seakan mereka membatalkannya.

Namun demikian ada beberapa kondisi seseorang diperbolehkan menyebut aib seseorang, meski dalam batasan yang diperlukan. Kondisi tersebut:
1.      Dalam rangka menyampaikan dakwaan perlakuan zalim kepada hakim.
2.      Untuk merubah kemunkaran dan mengarahkan seseorang yang berbuat munkar kepada kebaikan, agar ia kembali ke jalan yang benar dan enggan mengulangi keburukan. Hal ini boleh dilakukan jika cara menasehati dan upaya menutupi kemungkaran tidak lagi memberi pengaruh baginya untuk merubah perbuatannya.
3.      Berbuat dosa dan kemunkaran secara terang-terangan. Siapa yang melakukan kemunkaran secara terang-terangan, maka boleh dilaporkan agar ia tercegah melakukannya.Imam Hasan Al-Bashri berkata: “Ghibah  tidak boleh dilakukan kecuali tentang tiga orang; orang fasik yang berbuat dosa secara terang-terangan, orang yang menyebarkan bid’ah dan pemimpin yang sewenang-wenang.
4.      Dalam rangka menjelaskan seseorang. Jika ada orang yang tidak bisa dikenal kecuali dengan menyebut julukan, misalnya fulan si buta, fulan si hitam, dan lainnya. Itu boleh dilakukan karena tujuan untuk mengenal seseorang, tetapi tidak boleh jika bertujuan menghina dan meremehkan.

Wallahu a’lam.

Continue Reading | komentar

Kapok Jadi Pemabuk, Mariana Jesus Masuk Islam

Selasa, 21 Januari 2014

LONDON — Seorang warga Inggris, Mariana Jesus (22 tahun) menyatakan, ia berhenti total mengonsumsi minuman beralkohol setelah memutuskan masuk Islam. Sebelumnya, perempuan muda tersebut sempat ditahan polisi di negaranya lantaran mengemudi dalam kondisi mabuk.

“Saya masuk Islam dan tidak akan pernah minum (minuman beralkohol) lagi. Saya akan mengubah hidup saya dan segera menikah,” ujar Jesus di depan Pengadilan Inggris, seperti dikutip OnIslam.net dari Grantham Journal, Selasa (14/1).

Polisi Inggris sebelumnya menangkap Jesus karena mengemudi mobil dalam keadaan mabuk pada 14 Desember lalu. Hasil tes yang dijalaninya saat itu menunjukkan, setiap 100 mililiter napas wanita itu mengandung 46 mikrogram alkohol. Sementara, ambang batas maksimum yang dilegalkan di negara itu untuk para pengemudi hanya 35 mikrogram per 100 mililiter.

“Itu terjadi setelah saya menghadiri makan malam untuk sebuah rangkaian penyambutan Natal. Sepulangnya dari acara itu, saya tidak menyadari telah mabuk berat,” kata Jesus yang tinggal di Beechcroft Road, Grantham, Lincolnshire.

Jesus menambahkan, ia telah mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dialaminya. Hidayah pun akhirnya menuntun perempuan tersebut kepada Islam. Inggris sendiri saat ini menjadi rumah bagi hampir 2,7 juta komunitas Muslim.

Di samping itu, Islam juga menjadi agama yang paling cepat berkembang di negara itu. Sensus terakhir mengumumkan, proporsi umat Muslim di Inggris meningkat dari 3,0 persen menjadi 4,8 persen pada tahun lalu.

republika

Continue Reading | komentar

Tentang Kami

Foto Saya
Lembaga Profesi Da’i yang mampu mengoptimalkan potensi para da’i dalam menegakkan nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin

Pengunjung

Event

 
Support : Johny Magazine | Google Copyright © 2011. IKADI SOLO - All Rights Reserved

Proudly powered by Blogger