Menutup Aib Diri Sendiri dan Orang lain

Senin, 08 Februari 2016

Oleh Ust. H. Zulhamdi M. Saad, Lc
Usai shalat ashar di masjid Quba, seorang sahabat mengundang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beserta jamaah untuk menikmati hidangan daging unta di rumahnya. Ketika sedang makan, ada tercium aroma tidak sedap. Rupanya diantara yang hadir ada yang buang angin. Para sahabat saling menoleh. Wajah Rasulullah sedikit berubah tanda tidak senang. Maka tatkala waktu sholat maghrib hampir masuk, sebelum bubar, Rasulullah berkata: "Barangsiapa yang makan daging unta,  hendaklah ia berwudhu!". Mendengar perintah Rasulullah tersebut maka seluruh jamaah mengambil air wudhu. Dan terhindarlah aib orang yang buang angin tadi.
Aib adalah suatu cela atau kondisi yang tidak baik tentang seseorang jika diketahui oleh orang lain akan membuat rasa malu, rasa malu ini membawa kepada efek sikologi yang negatif jika tersebar.
Namun banyak kita dapati di tengah keseharian kita, pembicaraan dan obrolan itu sepertinya tidak asyik kalau tidak membicarakan aib, cacat dan kekurangan yang ada pada orang lain, padahal obrolan itu bukanlah perkara ringan dalam pandangan Islam.
Ajaran Islam melarang keras aib seseorang diceritakan, dan tidak boleh sekali-kali menyebarkan tentang apa atau bagaimana kondisi yang tidak baik tentang seseorang, bahkan islam mengajarkan untuk menutupinya. Allah berfirman dalam Surat Al Hujarat ayat 12 yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan aib orang lain; dan janganlah kamu mengumpat sebagian yang lain. Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, jauhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda yang artinya: "Wahai orang yang beriman dengan lisannya, tetapi tidak beriman dengan hatinya. Janganlah kamu mengumpat kaum muslimin dan janganlah mengintip aib mereka, maka barang siapa yang mengintip aib saudaranya, niscaya Allah akan mengintip aibnya dan siapa yang diintip Allah akan aibnya, maka Allah akan membuka aibnya meskipun dirahasiakan di lubang kendaraannya." (HR. at-Tirmidzi)
Bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam juga melarang seseorang untuk membuka aib dirinya sendiri kepada orang lain, sebagaimana sabdanya: "Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu –padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya." (HR. Bukhori Muslim)
Sebaliknya, Rasulullah memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang menutup aib saudara-saudara mereka, dengan menutup aib mereka di dunia dan akhirat, seperti dalam hadits shahih:  "Dan barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah menutup aibnya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)
Adapun aib yang ada pada seseorang bisa dibagi menjadi dua kategori:
Pertama, aib yang sifatnya khalqiyah, yaitu aib yang sifatnya qodrati dan bukan merupakan perbuatan maksiat. Seperti cacat di salah satu organ tubuh atau penyakit yang membuatnya malu jika diketahui oleh orang lain.
Aib seperti ini adalah aurat yang harus dijaga, tidak boleh disebarkan atau dibicarakan, baik secara terang-terangan atau dengan gunjingan, karena perbuatan tersebut adalah dosa besar menurut mayoritas ulama, karena aib yang sifatnya penciptaan Allah yang manusia tidak memiliki kuasa menolaknya, maka menyebarkannya berarti menghina dan itu berarti menghina Penciptanya. (Imam al Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin).
Kedua, aib berupa perbuatan maksiat, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.  Maksiat yang dilakukan sembunyi-sembunyi juga terbagi menjadi dua:
Pertama: Perbuatan maksiat yang hanya merusak hubungannya secara pribadi dengan Allah seperti minum khamr, berzina dll. Jika seorang muslim mendapati saudaranya melakukan perbuatan seperti ini hendaklah ia tidak menyebarluaskan hal tersebut, namun dia tetap memiliki kewajiban untuk melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Imam Syafi’i berkata, “Siapa yang menasehati saudaranya dengan tetap menjaga kerahasiaannya berarti dia benar-benar menasehatinya dan memperbaikinya. Sedang yang menasehati tanpa menjaga kerahasiaannya, berarti telah mengekspos aibnya  dan mengkhianatinya." (Syarh Shahih Muslim, Imam an Nawawi).
Kedua: Perbuatan maksiat yang dilakukan sembunyi-sembunyi tapi merugikan orang lain seperti mencuri, korupsi dan lain sebagainya. Maka perbuatan seperti ini diperbolehkan untuk diselidiki dan diungkap, karena hal ini sangat berbahaya jika dibiarkan, karena akan lebih banyak lagi merugikan orang lain.
Sebuah kisah masyhur yang ditulis oleh Imam Ibnu Qudamah dalam kitab "Tawwabin" dapat dijadikan pelajaran bagi kita untuk menutup aib diri sendiri dan aib orang lain serta mengakuinya dihadapan Allah dengan bertaubat atas dosa tersebut.
Disebutkan bahwa pada zaman nabi Musa 'alaihis salam, Bani Israil ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata , "Wahai Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami." Maka berangkatlah nabi Musa 'alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas bersama lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan kondisi yang lusuh penuh debu, haus dan lapar.
Musa berdoa, "Wahai Tuhan kami turunkanlah hujan kepada kami, tebarkanlah rahmat-Mu, kasihilah anak-anak dan orang-orang yang mengandung, hewan-hewan dan orang-orang tua yang rukuk dan sujud."
Setelah itu langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin kemilau. Kemudian Musa berdoa lagi, "Wahai Tuhanku berilah akmi hujan". 
Allah pun berfirman kepada Musa, "Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Keluarkanlah ia di depan manusia agar dia berdiri di depan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian. "
Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, "Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun, keluarlah ke hadapan kami, karena engkaulah hujan tak kunjung turun."
Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri, maka tak seorang pun yang keluar di depan manusia, saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud.
Ia berkata dalam hatinya, "Kalau aku keluar ke depan manusia, maka akan terbuka rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun. "
Maka kepalanya tertunduk malu dan menyesal, air matanya pun menetes, sambil berdoa kepada Allah, "Ya Allah, Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun, selama itu pula Engkau menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertobat kepada-Mu, maka terimalah taubatku. "
Belum sempat ia mengakhiri doanya maka awan-awan tebalpun bergumpal, semakin tebal menghitam lalu turunlah hujan.
Nabi Musa pun keheranan dan berkata, "Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di depan manusia." 
Allah berfirman, "Aku menurunkan hujan karena seorang hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun."
Musa berkata, "Ya Allah, Tunjukkan padaku hamba yang taat itu."
Allah berfirman, "Wahai Musa, Aku tidak membuka aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka akan aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!"
Setiap orang pasti memiliki kekurangan, cela dan dosa tertentu pada dirinya, maka suatu aib yang ada pada seseorang dapat dijadikan pelajaran bagi orang lain untuk dapat belajar dan memperbaiki diri agar tidak melakukan hal serupa yang akan menimpa dirinya dan orang lain akibat perbuatannya tersebut.
Maka beruntung dan berbahagialah orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri dari disibukkan dengan aib orang lain. Begitulah Rasulullah Saw menyampaikan dalam sabdanya: "Berbahagialah orang yang disibukkan dengan aibnya sendiri, sehingga ia tidak sempat memperhatikan aib orang lain." (HR Al-Bazzar dengan Sanad hasan).
Sungguh indahnya ajaran Islam yang menuntun kita agar menjaga aib kita sendiri dan menjaga aib orang lain, dan terus berupaya memperbaiki diri. Wallahu a'lam bishowab.

Continue Reading | komentar

HUKUM KEPALA DAN RAMBUT

Minggu, 07 Februari 2016

Sebelum mempelajari hukum-hukum pada kepala dan rambut, perlu dipahami terlebih dahulu, mana yang dimaksud dengan kepala dan rambut. Kepala dimulai dari tempat tumbuhnya rambut atau dapat juga disebut bagian ubun-ubun, sampai tengkuk .
Sedangkan rambut yang dimaksud dalam bahasan ini adalah rambut yang tumbuh di bagian kepala. 

a. Kemuliaan Kepala Dalam Islam,
kepala merupakan salah satu bagian tubuh yang dianggap mulia. Salah satu alasannya adalah karena di dalam kepala terdapat hakamah. Hal ini seperti dinyatakan dalam hadist beikut :
“Tidaklah dari setiap keturunan Adam, melainkan dikepalanya terdapat hakamah ditangan seorang Malaikat. Apabila ia tawadhu’, dikatakan kepada Malaikat tersebut : “Angkatlah hakamahnya”, sedangkan apabila ia sombong, dikatakan kepada Malaikat tersebut : “Letakkan hakamahnya.” [Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah no 538] 

Hakamah merupakan besi kekang yang berada dihidung kuda, tali kekang tersebut dapat mencegah kuda dari melawan perintah penunggangnya. Dalam terjemah bebas, hakamah dapat diartikan sebagai kontrol atau tali kendali. 

b. Hukum Mencukur dan Memanjangkan Rambut
Bagi laki-laki, dibolehkan mencukur habis rambutnya, terutama saat tahalul saat umrah atau haji. Sedangkan untuk memanjangkan rambut bagi laki-laki, sebagian ulama mengatakan sunah karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kesehariannya berambut panjang, yaitu melebihi telinga sampai menyentuh bahu. 

Dari Bara’ bin Azib, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat rambut melampaui ujung telinga seorang pun yang lebih bagus dari (rambut) Rasulullah.” Dalam suatu riwayat lain, “Rambut Rasulullah sampai mengenai kedua bahunya.” (Hr. Muslim: 2337) 

Namun sebagian besar ulama tidak menghukumi sunah, melainkan mubah (boleh) karena rambut Rasulullah pernah panjang, pendek, maupun dicukur habis. Rasulullah memanjangkan rambut karena kebiasaan masyarakat waktu itu adalah berambut panjang. Jadi, dalam hal ini diperbolehkan laki-laki memanjangkan rambutnya selama tidak melebihi bahu. 
Dilarang pula bagi laki-laki untuk memotong habis rambut dan menyisakan sedikit dibagian depan (model kuncung) atau di bagian samping. Bagi wanita, tidak diperbolehkan mancukur habis rambutnya, tetapi boleh memendekkan rambutnya. Sampai batas apa diperbolehkan? 
Batas paling pendek bagi rambut wanita adalah sampai daun telinga paling bawah. Hal ini merujuk pada beberapa hadist yang menyatakan sampai sebatas apa laki-laki memanjangkan rambut. Artinya, apabila panjang rambut wanita kurang dari ujung bawah daun telinga, dapat dikatakan bahwa ia telah menyerupai laki-laki. 

c. Mengepang Rambut 
Bagi wanita, tidak ada larangan sama sekali untuk mengepang rambut. Bahkan disunahkan untuk di kepang 3 kepangan saat seorang wanita meninggal dunia. Hal ini berdasarkan dalil :

Dari Ummu Athiyah, ia berkata: “ Mandikanlah dengan hitungan ganjil, yaitu tiga,lima atau tujuh kali ”. Dan Ummu Athiyah berkata: “ Lalu kami menyisir rambutnya menjadi tiga kepangan “. (HR.Muslim:1558 ) 

Bagi laki-laki, diperbolehkan mengepang rambut meski tidak terlalu rapi, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun biasa mengepang rambutnya agar tidak mengganggu. Akan tetapi, tidak diperbolehkan bagi laki-laki untuk mengepang selain rambut kepala, misalnya mengepang jenggot. 

d. Menyambung rambut 
Haram hukumnya bagi laki-laki maupun perempuan yang menyambung rambutnya, termasuk menggunakan wig, konde, atau sejenisnya. Larangan ini juga berlaku bagi mereka yang menderita penyakit sehingga menyebabkan rambutnya rontok. 

“Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan meminta disambungkan rambutnya.” (HR. al-Bukhari no. 5941, 5926 dan Muslim no. 5530) 

e. Mencabut Rambut Uban 
Sebagian ulama ada yang menghukumi haram, tetapi sebagian besar (dan ini yang lebih disepakati), mencabut uban hukumnya makruh. Pada hakekatnya, uban tidak perlu dicabut karena uban dapat menjadi penerang atau sumber cahaya di akhirat. Penerang atau cahaya bagi setiap mukmin di akhirat adalah sesuatu yang sangat berharga. 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). 

Hukum mencabut uban ini juga berlaku bagi mereka yang ubannya muncul karena salah produk atau karena stres. Maka alangkah lebih baiknya jika uban dibiarkan saja, tanpa dicabut. 

f. Menyemir rambut 
Menyemir rambut biasanya dilakukan untuk menutupi uban agar tidak perlu dicabut. Menyemir rambut diperbolehkan dengan syarat tidak menggunakan warna hitam. Meskipun pada zaman sekarang, menyemir rambut selain warna hitam justru menimbulkan kesan metal atau tidak sopan.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam. “ HR. Muslim 

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menyemir rambut dengan warna hitam. Sebagian mengatakan makruh dan sebagian mengatakan haram. Adapun sikap yang lebih baik adalah menghindari suatu perbuatan meskipun hukumnya makruh. Menyemir rambut dengan warna hitam diperbolehkan pada zaman Rasulullah untuk pasukan perang agar terlihat lebih muda/gagah sehingga membuat musuh gentar. Menurut Imam Az Zuhri, menyemir rambut dengan warna hitam diperbolehkan untuk orang tua yang sudah rompal gigi-giginya. 

g. Mengusap atau Membasuh Kepala
Menurut Imam Malik, membasuh kepala ketika wudhu dilakukan mulai ubun-ubun sampai tengkuk kemudian balik lagi ke ubun-ubun. Sedangkan menurut Imam Syafi’I dan Imam Hanafi,mengusap sepertiga bagian kepala sudah mencukupi. Bahkan Imam Syafi’i menyatakan bahwa membasuh 3 helai rambut saja sudah mencukupi. Hal ini memberi keringanan, terutama bagi wanita yang memiliki rambut panjang atau ketika harus melepas jilbab saat berwudhu.

h. Meminyaki Rambut 
Bagi laki-laki, disunahkan meminyaki rambut, terutama saat puasa agar tidak terlihat loyo atau lemah. Sunah pula menyisir dan meminyaki rambut saat menerima tamu atau selepas bepergian jauh. 

i. Menutup Kepala
Laki-laki disunahkan menutup kepala dengan imamah (penutup kepala), terutama ketika hendak sholat. Bahkan menurut beberapa ulama, sholat dengan imamah memiliki pahala yang lebih besar. Imamah atau penutup kepala yang dimaksud misalnya seperti peci yang biasa digunakan kaum muslimin. Hindari penggunaan imamah seperti yang digunakan kaum Yahudi. Bagi wanita, wajib hukumnya menutup kepala dengan jilbab ketika sudah baligh, kecuali bagi wanita yang sudah sangat tua dan tidak menimbulkan hasrat bagi laki-laki. Pada zaman Rasulullah, seorang budak justru tidak diperintahkan untuk mengenakan jilbab untuk membedakan dengan wanita merdeka. [ Otede ]

Catatan : Artikel di atas merupakan rangkuman materi PENA IKADI Solo Pekan ke-1 : Fiqh Sehari-hari oleh Ust. Fakhrudin Nursyam Lc. Info lebih lanjut tetang PENA IKADI, hubungi 0857 3033 5716

Continue Reading | komentar

Agenda Kegiatan Ramadhan 1436 H

Senin, 08 Juni 2015

Dalam rangka menyemarakan syiar Ramadhan 1436 H,  IKADI Kota Surakarta menyusun serangkaian kegiatan dengan tema "Ramadhan Bulan Qur'an Mari Semangat Mempelajari Al Qur'an " dengan agenda kegiatan sebagai berikut : 

No
Kegiatan
Pelaksanaan
1
Pelatihan Da'i Ramadhan
7 Juni 2015
2
Mabit Sambut Ramadhan
13 Juni 2015
3
Tarhib Ramadhan
14 Juni 2015
4
Korp Mubaligh Ramadhan (KMR)
Selama Bulan Ramadhan
5
Iftor Bersama Ikadi
4 Juli 2015
6
Pengajian Ahad Sore
Setiap Ahad Sore
7
Ikadi Qur'an Center
Selama Bulan Ramadhan
8
Tarawih Bersama Masyarakat
Selama Bulan Ramadhan
9
Ikadi Cinta TPA
27 Juni 2015
10
Tebar Al Qur'an
4 Juli 2015
11
Nuzulul Qur'an
4 Juli 2015
12
Iktikaf Qur'ani
7 - 14Juli 2015

Continue Reading | komentar

Ketua IKADI: Islam Itu Moderat, Bukan Liberal

Jumat, 08 Mei 2015

Jakarta.  Agama Islam tidak mengajarkan umatnya untuk kaku dalam kehidupan sosial dan bernegara. Islam mengajarkan sikap-sikap moderat.
Yang telah diterapkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Itu Islam moderat yang dicontohkan Rasulullah melalui akidah dan akhlaknya,” kata Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof Ahmad Satori Ismail, Jumat (3/4).
Definisi Islam moderat sendiri, ujarnya, sebagai suatu tindakan yang sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunnah dalam hadists.

Continue Reading | komentar

Ini Alasan Muslim Dilarang Ikut-Ikutan April Mop

Sabtu, 28 Maret 2015

Selain ulama kontemporer seperti Qardhawi, ulama salafi juga tak ketinggalan ikut mengecam umat Islam yang ikut-ikutan budaya April Mop tersebut. Seperti difatwakan Mufti Arab Saudi, Muhammad ibnu Shalih ibnu Utsaimin mengatakan, haram hukumnya berbohong walau hanya untuk tujuan kelakar.

Continue Reading | komentar

Tentang Kami

Foto Saya
Lembaga Profesi Da’i yang mampu mengoptimalkan potensi para da’i dalam menegakkan nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin

Pengunjung

Kajian Ahad Pagi

Kajian Ahad Pagi
 
Support : Johny Magazine | Google Copyright © 2011. IKADI SOLO - All Rights Reserved

Proudly powered by Blogger