Islam dan Prinsip-prinsip Akhlaq

Rasulullah telah menjelaskan tujuan utama diutusnya beliau menjadi rasul dan minhaj yang jelas melalui sabdanya,

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempuranakan akhlak mulia."(HR.Malik).

Seolah-olah risalah yang alirannya telah ditentukan di dalam sejarah kehidupan, si pembawanya telah mengerahkan segenap tenaga utnuk memancarkan sinarnya dan mengumpulkan orang di sekitarnya. Tidak lebih dari sekedar memberi dukungan terhadap kemuliaan mereka dan menyinari kesempurnaan yang yang telah berkibar di depan mereka agar mereka berjalan menuju risalah itu dengan jelas dan gamblang.

Dan sabdanya:"الدين حسن الخلق" Agama adalah akhlak yang baik(HR.Hakim).Begitu pentingnya akhlak dalam Islam seakan tidak ada ajaran agama kecuali akhlak.
Oleh karena itu akhlak menjadi landasan hidup dan pijakan dalam berbicara,bersikap dan berprilaku,sebagai mana firman Allah:

"Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung"(QS.Al-Qalam)


Rukun Islam yang lima sangat erat kaitannya dengan akhlak;dua kalimat syahadt,shalat,zakat,shaum dan hajji tidak dapat dipisahkan dari prinsip-prinsip dan nilai-nilai akhlak.Setiap rukun dari rukun islam yang lima harus berdampak positif pada perubahan prilaku dan gaya hidup seorang muslim.

Dan ibadah yang disyariatkan Islam adalah sebagai pilar-pilar keimanan bukan sekedar ritual semu yang menghubungkan antara manusia dengan alam gaib yang misterius. Memberinya dengan berbagai amal serba samar dan gerak-gerik tanpa makna. Tidak, sekali lagi tidak,berbagai kewajiban yang dibebankan Islam kepada setiap muslim merupakan latihan yang berulang-ulang agar terbiasa dengan akhlak yang benar dan senantiasa komitmen dengan akhlak tersebut apun kondisi yang dialaminya.

Ia tak ubahnya seperti senam yang sangat diminati orang. Dengan melakukannya secara kontinu ia berharap agar badannya sehat dan hidupnya sejahtera.

1.Syahadatain dan akhlak

Mengucapkan dua kalimat syahadat bukan kegiatan formalitas untuk menjadi muslim akan tetapi lebih jauh dan lebih dalam dari itu adalah bukti keyakinan yang kuat dan kejujuran yang sempurna serta keikhlasan yang mendalam dalam menerima islam sebagai system hidup.Oleh karena itu Rasulullah menegaskan barang siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah dengan dengan hati yang jujur maka ia masuk surga.

"Tidak ada seoang hamba yang mengucapkan laa ilaaha illallah kemudian mati dengankomitmenpadanya melainkan ia masuk surga"(HR.Bukhari)
"Barang siapa yang menghadap Allah dengan dua kalimat syahadat tanpa meragukannya sedikitpun maka ia masuk surga"(HR.Ahmad)


Dari dua hadits di atas sangat jelas bahwa mengucapkan dua kalimat syahadat bukan hanya sekedar ucapan lisan akan tetapi disertai dengan keyakinan,kejujuran hati dan komitmen untuk menjalankan tuntutannya dengan benar dan ikhlas.

2.Shalat dan akhlak


Al-Qur'an Al-Karim dan As-Sunnah Al-Muthahharah menyingkap hakikat ini. Shalat wajib misalnya, saat Allah memerintahkan melaksanakannya Dia juga menjelaskan hikmahnya.
Allah berfirman,
Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Menjauhkan diri dari keburukan dan mensucikan diri dari semua perkataan serta amal buruk adalah hakikat shalat. Nabi meriwayatkan dari Rabbnya,
"Sesungguhnya Aku menerima shalatnya seseorang yang tawadhu' karena keagungan-Ku, tidak sombong terhadap makhluk-Ku, tidak terus-menerus melakukan maksiat terhadap-Ku, menghabiskan siangnya untuk berzikir kepada-Ku, menyayangi orang miskin, ibnu sabil, dan janda, serta menyantuni orang yang terkena musibah." (Al-Bazzar).


3.Zakat dan Akhlak

Zakat wajib bukan pajak yang diambil dari kas. Namun, pertama-tama ia merupakan bentuk penanaman perasaan kasih sayang, penguat hubungan antar orang-orang yang saling mengenal, serta penyatuan lintas strata masyarakat.

Al-Qur'an menyebutkan tujuan dikeluarkannya zakat.

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Membersihkan dari daki-daki kekurangan dan mengangkat masyarakat ke tingkat keluhuran merupakan hikmah utama zakat.

Oleh sebab itu Nabi memperluas pemahaman sedekah agar seorang muslim beusaha untuk melakukannya,

"Senyum untuk saudaramu adalah sedekah, kamu memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar adalah sedekah. Kamu membimbing seseorang di tempat tersesatnya adalah sedekah, serta kamu menujukkan jalan bagi orang yang lemah penglihatannya adalah sedekah. Kamu menyingkirkan duri, tulang dari jalan adalah sedekah. Mengosongkan embermu dengan mengisi ember saudaramu adalah sedekah. Menuntun orang buta adalah sedekah " .......(Bukhari)

Ajaran semacam ini bagi masyarakah gurun pasir yang selama berabad-abad berada dalam permusuhan dan pertikaian mengisyaratkan tujuan yang dipaparkan oleh Islam, yang membimbing masyarakat Arab jahiliyah yang gelap gulita itu.

4.Puasa dan akhlak

Islam juga mensyariatkan puasa. Ibadah ini tidak dipandang sebagai larangan makan dan minum untuk rentang waktu tertentu. Namun ia dianggap sebagai tahapan larangan bagi jiwa manusia untuk memenuhi syahwatnya yang berbahaya serta keinginannya yang bejat.

Untuk menegaskan pengertian ini, Rasulullah saw bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ ، وَالْعَمَلِ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
"Barangsiapa tidak meninggalkan persaksian palsu dan tidak meninggalkan perbuatan (karena persaksian palsu itu) maka Allah tidak punya kepentiangan apapun ketika ia meninggalkan makanan dan minumannya." (Bukhari).

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ فَإِذَا سَابَكَ أَحَدٌ ، أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ ، فَقُلْ إِنِّي : صَائِمٌ
"Bukanlah puasa itu hanya sekedar tidak makan dan minum. Puasa itu adalah meninggalkan ucapann sia-sia dan kata-kata jorok. Jika seseorang mencacimu atau berbuat jahil kepadamu katakan saja, 'Aku sedang puasa.'" (Ibnu Khuzaimah).

Al-Qur'an juga menyebutkan buah puasa seperti halnya firman Allah,
"Diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." (Al-Baqarah: 183).

5.Hajji dan akhlak

Mungkin seseorang mengira bahwa bepergian ke tampat suci, yang diwajibkan bagi siapa yang mampu dan dijadikan sebagai salah satu kewajiban Islam kepada pengkikutnya, hanya sebagai wisata dan jauh dari pesan-pesan moral dan nilai-nilai luhur yang kadang dimiliki oleh berbagai agama melalui ritual gaibnya.

Tentu ini tidak benar. Sebab Allah telah berfirman,
"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." (Al-Baqarah: 197).

Inilah paparan ringkas tentang sebagian ibadah populer dalam Islam dan dikenal sebagai rukun-rukun utamanya. Jelaslah kiranya sejauh mana kuatnya hubungan antara agama dengan akhlak.

Ibadah yang berbeda inti dan tampilannya. Namun ia bertemu pada tataran tujuan sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw melalui sabdanya,
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempuranakan akhlak mulia."

Shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah ketaatan lainnya yang ada pada ajaran Islam merupakan tangga menuju kesempurnaan ideal dan sarana mensucikan jiwa untuk memelihara dan meninggikan kualitas hidup. Perilaku yang mulia dan berkaitan erat dengan ibadah itu atau muncul akibat itu akan membuat seseorang memiliki tempat tertinggi dalam agama Allah.
Jika seseorang tidak mendapatkan apapun untk mensucikan hatinya, membersihkan otaknya serta mengeratkan hubungannnya dengan Allah dan dengan manusia maka orang itu gagal. Allah berfirman,

"Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, Maka Sesungguhnya baginya neraka jahannam. ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh Telah beramal saleh, Maka mereka Itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang Tinggi (mulia), (yaitu) syurga 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan)." (Thaha: 74-76)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RENUNGAN TAHUN BARU HIJRIYAH

JIHAD dan PENGORBANAN