Al Quran Dustuuruna

Ikhwah fillah, pasti kita tidak asing lagi dengan nama Imam Syafi’I. Ya, beliau adalah salah satu imam madzhab yang diikuti pendapatnya oleh mayoritas penduduk Indonesia. Dalam catatan sejarah, beliau telah menjadi mufti besar di zamannya (Ketua MUI di Indonesia) dalam usia 15 tahun. Kholifah Umar bin Abdul azis pun juga menjadi orang besar dengan mendapatkan jabatan gubernur Madinah di usia yang sangat muda, 23 tahun. Selain mereka berdua, pahlawan islam lainnya adalah Sultan Muhammad Al fatih, di usianya yang ke 22 tahun ia telah menjadi sultan Turki Utsmani dan 2 tahun berikutnya ia mampu menaklukkan benteng legendaries Konstantinopel. Luar biasa bukan?!
Mungkin kita bertanya-tanya, apa rahasia mereka sehingga menjadi orang besar di usianya yang relative sangat muda? Ya, tepat sekali.. jawabannya adalah karena mereka sejak usia dini sudah terdidik dengan pendidikan Al Quran. mereka telah hafal Al Quran sejak usia 7 tahun. Dan masih banyak para ulama dan cendikiawan muslim yang mereka juga telah merampungkan hafalan mereka di usia dini, contohnya saja ; Imam Ath-Thobari (ahli tafsir) hafal Quran di usia 7 tahun, Ibnu Sina (ahli kedokteran) hafal Quran di usia 5 tahun, Ibnu Kholdun (ahli filsafat) hafal Quran di usia 7 tahun, Imam Ahmad bin Hambal (ulama madzhab) juga hafal quran sejak kecil, dan masih banyak orang-orang besar lainnya yang mereka telah tertanamkan Al Quran dalam dada mereka, maka tidaklah mengherankan kalau dewasanya menjadi ilmuwan, Tokoh dan Pemimpin bagi umat islam ini.
Hal ini juga diperkuat dalam sabda Nabi Muhammad SAW ; “Barang siapa yang mempelajari Al Quran di usia dini, maka Allah akan mencampurkan Al Quran tersebut dalam daging dan darahnya” (HR. Bukhori).


Ikhwah fillah, Mengapa orang Yahudi lebih banyak mengincar anak-anak Palestina untuk mereka jadikan sasaran tembak? Karena ribuan anak-anak Palestina telah menyelesaikan hafalan Al Quran 30 juz, tidak hanya juz 30. Pikir orang Yahudi ; “Kalau sejak kecil saja mereka sudah hafal Al Quran, bayangkan 20 tahun lagi apa jadinya mereka nanti ?”.
So, inti dari contoh-contoh tadi adalah kita akan mendapatkan kemuliaan dan ketinggian derajat ketika menjadikan Al quran sebagai Dustur, Pedoman Hidup. Ya, mulai saat ini slogan kita adalah “Al Quran Dustuuruna”.
Lalu bagaimana membuktikannya bahwa Al Quran itu sebagai dustur bagi kita? Sebenarnya tidak ada yang sulit. Untuk membuktikannya silahkan kita perhatikan sejauh mana tilawah Al Quran kita? Sudahkah tilawah kita itu menggerakkan hati kita untuk melangkah lebih jauh lagi menatap luasnya samudera Al Quran? Sebab tilawah yang baik dan memberikan atsar (bekas) pada jiwa lah tilawah yang bermanfaat. Ini karena di antara sifat Al Quran itu adalah sebagai ruh, yakni menggerakkan sikap, lisan, perilaku, dakwah dan amal dalam hidup ini.

Allah berfirman: “Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al-kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki …” (QS. Asy-Syura: 52)

Yakinlah bila bacaan Al Quran yang kita baca setiap hari kurang membekas pada akhlak kita sehari-hari maka jangan bermimpi hidayah Allah akan terus melekat kuat di dalam sanubari kita. Sebaliknya, jika kita tidak segera intropeksi dan melakukan perbaikan demi perbaikan dikhawatirkan setan malah terlanjur menggoda dengan bacaan-bacaan yang tidak bermanfaat dan mengandung dosa.

            Kesimpulannya ketika kita ingin mendapatkan kemuliaan di Dunia dan Akherat, maka mari eratkan interaksi kita dengan Al Quran, jadikan dalam diri kita sebuah slogan “Al Quran Dustuuruna” dengan menggalakkan gerakan “One Day One Juz” (dalam tilawah), “One Day One Ayat” (dalam hafalan), “One Home One hafidz”(Satu Rumah, Satu Penghafal Al Quran), dan akhirnya adalah “Menuju Indonesia Qurani”.

Ya Allah rahmatilah aku dengan Al Quran
Jadikanlah dia itu pemimpin, cahaya, petunjuk dan tanda kasih sayang(Mu) bagiku
Ya Allah ingatkanlah aku sesuatu yang aku lupa darinya
Dan ajarkanlah aku segala yang aku belum ketahui daripadanya.
Rizkikanlah kepadaku untuk selalu membacanya baik diwaktu malam maupun siang

Jadikanlah dia argumen bagiku, wahai Rabb semesta alam
Rudy Hartanto - IKADI SOLO

Komentar