Bahasa Sebagai Tanda Kemuliaan Yang Diberikan Allah Kepada Manusia

Oleh Prof. Djatmika, MA. Sebagai seorang yang menggeluti ilmu bahasa, saya sangat terkesima dengan awal Surat Ar-Rahman yaitu ayat 1-4 yang artinya kurang lebih sebagai berikut:
“(Allah) Yang Maha Pemurah”
“Yang telah mengajarkan Al-Qur’an”
“Dia menciptakan manusia”
“Mengajarnya pandai berbicara”

(QS Ar-Rahman:1-4)
Apabila dihayati secara mendalam empat ayat pendek dari Surat Ar-Rahman ini ternyata menunjukkan kebesaran dan kemurahan Allah atas penciptaan manusia. Dibandingkan dengan makhluk lain di muka bumi ini, memanglah benar manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang paling mulia. Kemuliaan itu diberikan Allah dalam bentuk sifat manusia sebagai makhluk yang berpikir (berakal) dan juga sebagai makhluk yang berbicara. Dua sifat ini dalam dunia akademis sering kita dengar dengan istilah human being as talking and thinking animals. Kenapa sifat bisa berbicara itu dikaitkan dengan sifat berakal? Karena Allah dengan kemurahanNya memberikan manusia dengan akal. Segala hal yang diperlukan manusia untuk melangsungkan kehidupannya di muka bumi ini harus dipenuhi sendiri melalui proses berpikir untuk menciptakan ilmu pengetahuan dalam berbagai aspek kehidupan—yang salah satunya adalah kemampuan berkomunikasi dengan bahasa.
            Kita bisa membandingkan sifat manusia ini dengan mahkluk lain. Binatang juga diberi Allah dengan ilmu berkomunikasi. Namun demikian, ilmu berkomunikasi itu  (dan juga ilmu lain yang diperlukan binatang untuk hidup di muka bumi ini) dianugerahkan  oleh Allah kepada binatang dalam bentuk satu paket. Begitu seekor bayi kambing dilahirkan, maka dalam hitungan detik serta merta dia memiliki kemampuan berkomunikasi dengan induknya. Hal ini karena kemampuan berkomunikasi itu diberikan Allah dalam bentuk paket kepada binatang ini. Bentuk komunikasi binatang ini sifatnya terbatas dan tidak pernah berkembang atau mengalami perubahan dari jaman dahulu sampai sekarang dan bahkan bias jadi sampai hari akhir besok.
            Pada sisi lain, bayi manusia belum mampu berkomunikasi pada saat dilahirkan. Dia dan ibunya memerlukan waktu beberapa saat untuk menjalin komunikasi dengan jenis suara tangisan. Penelitian menemukan ada beberapa jenis frekwensi tangisan bayi yang mewakili pesan yang hendak dikirimkan oleh si bayi, misalnya tangisan yang menunjukkan rasa lapar (haus), atau rasa tidak nyaman (basah atau panas), rasa ngantuk, dan juga rasa sakit. Dia mengandalkan jenis-jenis tangis ini untuk berkomunikasi dengan manusia di sekitarnya (terutama dengan orang tuanya) selama beberapa bulan, baru kemudian dia mengalami fase-fase dasar perkembangan bahasa, misalnya fase ngoceh, memproduksi satu kata, dua kata, kalimat telegrafis, dan pada akhirnya pada usia sekitar 4 tahun seorang anak manusia akan memperoleh bahasa ibunya dengan kualitas seperti bahasa orang dewasa. Kita bisa bayangkan, kalau binatang mendapatkan ilmu berkomunikasi itu dalam bentuk satu paket dengan otaknya, anak manusia diberi anugerah oleh Allah untuk mendapatkan ilmu berkomunikasi tersebut melalui proses BELAJAR.

            Mengapa belajar? Yakh karena perkembangan bahasa yang dialami anak manusia itu terjadi dengan proses mendengar, melihat, meniru, dan berpikir. Setiap anak manusia menerima anugerah Allah berupa otak yang salah satu bagiannya berfungsi sebagai mesin untuk belajar dan memperoleh bahasa. Namun, bagian otak ini tidak akan memberikan manfaat apapun apabila tidak ada paparan yang diberikan lingkungannya. Oleh karena itu, manakala seorang anak manusia mendapatkan paparan, maka dia akan mendengar dan juga melihat, kemudian melakukan proses sintesa dengan otaknya, dan pada akhirnya akan menirukan paparan tersebut untuk menjadi bagian resource dari kemampuan berbahasa yang dia kuasai. Proses ini tidak terjadi pada binatang. Oleh karena itu, anak manusia yang tumbuh kembang di Jawa akan berbahasa Jawa, kalau dia tumbuh kembang di Amerika, maka dia akan berbahasa Inggris, dan kalau dia tinggal beberapa tahun di Arab Saudi, maka kemampuan bahasa Arab akan dia dapatkan. Tidak demikian dengan seekor kucing, dimanapun dia tumbuh berkembang, seekor anak kucing akan tetap mengeong untuk berkomunikasi dengan kucing lain. Kucing yang datang dari Amerika tidak memerlukan penerjemah untuk berkomunikasi dengan kucing yang ada di Jawa, karena ilmu berkomunikasi itu sudah diberikan satu paket oleh Allah di dalam otaknya. Itulah kemuliaan Allah yang diberikan kepada kita. Wallahu alam bishawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RENUNGAN TAHUN BARU HIJRIYAH

JIHAD dan PENGORBANAN