IKADI Dukung Raperda “Pelarangan Miras”

Islam adalah agama yang membawa Rahmat bagi kehidupan ini. Segala macam aktifitas yang merusak, baik merusak jiwa, fisik, maupun lingkungan adalah hal yang bertentangan dengan nilai nilai islam. Inilah yang terjadi pada minuman beralkohol yang dikenal dengan istilah MIRAS (Minuman Keras). Miras berdampak merusak baik orang yang menkonsumsinya, dan juga akan menimbulkan gangguan pada lingkungan yang ada disekitarnya. Beberapa dampak negatif yang ditimbulkan antara lain:
  1.  GMO  (Gangguan Mental Organik), yang mengakibatkan perubahan perilaku, misalnya peminum jadi berperialku kasar, sehingga bermasalah dengan keluarga, masyarakat,  dan  kariernya, suka berbicara  melantur,   mudah  tersinggung,  dll.
  2. Merusak Daya Ingat, orang yang kecanduan minuman beralkohol, akan terhambat perkembangan memori dan sel-sel otaknya.
  3. Gangguan Jantung, mengonsumsi minuman beralkohol lama kelamaan Jantung tidak akan berfungsi dengan baik.
  4. Gastrinitis, kecanduan minuman keras menyebabkan radang, atau luka pada lambung.
  5. Paranoid, gangguan kejiwaan. Berperilaku kasar terhadap orang-orang yang ada disekitarnya, atau seperti ada bisikan-bisikan untuk melakukan sesuatu, dan ia akan melakukan sesuatu diluar nalarnya.

Dari kacamata hukum, hak untuk mendapatkan lingkungan yang sehat dalam kehidupan merupakan  Hak Asasi  Manusia   (HAM)  yang dijamin dalam  Pasal 28H ayat (1)  UUD Negara  Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945) “Setiap orang berhak hidup sejahtera   lahir batin,   bertempat  tinggal,  dan   mendapatkan  lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan “. Hak ini harus dijunjung tinggi dan dihormati oleh semua warga negara Indonesia. Oleh karena itu mereka yang berinteraksi dengan MIRAS: memproduksi, memperdagangkan, atau kah menkonsumsinya dapat dikatakan sebagai pihak yang melanggar undang undang, karena akan menciptakan kekacauan dan tidak tenangnya kehidupan ber masyarakat.
Disi lain, di dalam UUD 1945 Pasal 29 ayat 1 menyebutkan bahwa negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya kehidupan bangsa dan negara ini terbingkai oleh nilai nilai agama.  Oleh karena itu mestinya sebagai negara  yang   beragama,  pemerintah akan   mudah   mengatur perkembangan minuman beralkohol atau yang sering juga disebut minuman keras (miras),  yang jelas jelas diharamkan oleh semua Agama.
Miras adalah pintu lebar bagi tersebarnya HIV/AIDS dimana Solo telah menjadi kota tertinggi se Jateng jumlah penderita AIDS nya dgn jumlah pengidap sebanyak 627 orang (pada tahun 2011) dan terus meningkat. Sebagai pengayom bagi masyarakat, pemerintah kota berkewajiban utk melindungi rakyatnya dari segala macam ancaman dan bahaya yang merugikan kehidupan mereka. Pelarangan ini berlaku umum karena dampak kerusakan yang ditimbulkannya jauh lebih luas dan lebih besar dibanding keuntungan bisnisnya.
Masyarakat kota Solo khususnya, dan bangsa Indonesia secara umum, mestilah sadar bahwa larangan MIRAS lebih dikarenakan bahaya minuman keras itu sendiri dalam kehidupan manusia. Bahkan pada tahun 1986, preseiden AS (reagen) melakukan kampanye anti MIRAS ini “Say no to Alcohol”. Reagen melakukan hal ini bukanya karena dia merujuk pada nilai nilai Islam, melainka dia memahami bahayanya MIRAS bagi kehidupan universal
Bagi kita ummat Islam, kita harus yakin bahwa  Islam mengatur ummatnya, sehingga kehidupanya lebih baik dan berkah. Karena bahayanya bagi kehidupan itulah, makanya Allah jelas jelas mengharamkan MIRAS ini (QS Al Maidah ayat 90-91). Berangkat dari hal diatas PD IKADI Kota surakarta menyatakan sikap:

  1. 1    Miras adalah minuman yang jelas jelas diharamkan oleh Allah SWT, dan menjadi sumber munculnya derevasi kejahatan/kerusakan/perilaku maksiyat lainya.
  2.       Miras akan memberikan dampak negatif bagi kehidupan ini secara universal, oleh karena itu harus dijauhkan dari masyarakat kota solo, dan bagsa Indonesia secara umum.  
  3.        IKADI Kota Surakarta Mendukung perda “pelarangan MIRAS”, bukan Perda “pengaturan peredaran dan penjualan MIRAS”, sehingga masyarkat kota surakarta khususnya, dan bangsa indonesai umumnya akan terselamatkan dari bahaya yang lebih besar lagi.

Surakarta, 19 Februari 2014


PD IKADI Kota Surakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RENUNGAN TAHUN BARU HIJRIYAH

JIHAD dan PENGORBANAN