Ketum Ikadi: Umat Islam Indonesia Belum Kokoh

Demikian mudahnya umat Islam dihasut dan diadu domba sesama mereka. Masing-masing pihak tak bisa menahan diri. Ketika terjadi masalah, dengan mudahnya umat tersulut emosi. Akhirnya terjadilah gesekan antarsesama umat Islam. Padahal, yang rugi justru hanya umat Islam itu sendiri.
Menurut Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof Dr KH Ahmad Satori Ismail, umat Islam harus mengedepankan komunikasi dan klarifikasi ketimbang menjustifikasi. Umat Islam diminta untuk bertabayun (mengklarifikasi) suatu masalah. Bahkan, jika benar hal itu murni kesalahan, umat Islam diperintahkan untuk islah (berdamai dengan cara baik-baik).
Kiai Ahmad Satori berpendapat, penyebab umat Islam sangat rapuh dan mudah terprovokasi adalah karena tidak menjalankan tuntunan Islam secara mayoritas. “Umat Islam di Indonesia tidak dikokohkan karena mungkin saja kita beramal saleh belum maksimal secara mayoritas. Yang saleh sebenarnya banyak, tapi jika dikalkulasikan secara umum, tentu mayoritasnya belum,” jelasnya. Berikut petikan wawancara selengkapnya bersama wartawan Republika, Hannan Putra.
Mengapa umat Islam identik mudah tersulut emosi dan terprovokasi?
Dalam surah an-Nur ayat 55 disebutkan janji Allah SWT, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS an-Nur [24]: 55).
Allah menjanjikan kepada orang beriman dan yang beramal saleh akan tiga hal. Pertama, diberikan kekuasaan di muka bumi. Kedua, diberikan kekokohan pada agamanya. Ketiga, dihilangkan rasa takutnya kemudian diganti dengan rasa ketenangan.
Ketiga hal ini kalau kita lihat di Indonesia, tampaknya belum diwujudkan Allah SWT. Kita tahu, Allah SWT tidak akan pernah melanggar dan mungkir dengan janjinya. Kemungkinan besar, keimanan, amal saleh, dan kekokohan kita dalam beribadah belum maksimal atau belum sesuai dengan tuntunan Islam.
Kalau kita perhatikan, umat Islam dan masyarakat kita memang seperti itu. Mayoritas kita memang seperti itu. Inilah alasannya mengapa tiga janji Allah ini tidak terlihat. Karena hukum ini berlaku secara mayoritas pula.
Karena agama Islam ini tidak dikokohkan Allah SWT, tentu akan banyak yang menggoyahkannya. Sekarang gampang sekali muncul aliran sesat. Kita lihat saja orang Syiah secara bebas berpesta pora. Indonesia tidak seperti di Malaysia, contohnya. Di sini benar-benar bebas bagi aliran sesat untuk berkembang.
Kemudian, antarsesama umat Islam juga saling mengancam. Ini tanda-tanda dan bukti bahwa umat Islam tidak dikokohkan agamanya. Selain itu, kita juga merasakan, rasa khawatir dan takut umat Islam belum diganti dengan rasa ketenangan dan ketenteraman. Kemungkinan besar alasannya karena umat Islam secara mayoritas belum sesuai dengan apa yang dituntunkan Allah SWT.
Untuk itu, kita harus memperkokoh internal umat Islam dari segi ibadah, muamalah, dan lain sebagainya. Dari segi ibadah, kita harus menghilangkan kesyirikan-kesyirikan yang masih melekat dalam diri umat Islam. Sebagaimana di ujung ayat surah an-Nur tadi, “Mereka menyembah-Ku dan tidak memiliki kesyirikan dengan sesuatu apa pun.”
Bisa dipastikan, jika Allah SWT sudah memperkokoh agama ini, tidak akan ada lagi “riak-riak” seperti yang sekarang kita rasakan. Jika umat Islam ada masalah, akan mudah saja dipadamkan.
Apa batasan-batasan Islam untuk bertoleransi antarsesama?
Dalam surah al-Hujurat, ada sembilan pokok yang menjadi dasar kuatnya agama ini. Al-Hujurat dalam bahasa Arab berarti kamar-kamar. Ada privasi-privasi dalam umat Islam yang tidak boleh dicampuri orang lain. Setiap kamar punya privasinya dan tidak boleh saling mengganggu. Kalau kita mengkaji surah al-Hujurat ini, ada pelajaran bahwa kalau ada berita kita harus tabayun (klarifikasi) terlebih dahulu. Jangan karena ada tulisan seperti anti-Syiah misalkan, kemarahan umat Islam langsung meluap-luap. Mungkin saja Syiah yang dimaksud di sana adalah Syiah Rafidhah yang masuk kelompok ekstremis.
Jadi, jangan mudah terprovokasi. Kalau ada berita atau informasi, kita harus tabayun terlebih dahulu. Jelas Alquran menyebutkan, “fatabayyanu”.
Dalam surah al-Hujurat ini juga dipesankan agar kita bisa saling mengokohkan ukhuwah dan tidak saling menghina. Surat ini indah sekali mengajarkan kita bagaimana memperkokoh kesatuan umat Islam. Alquran mengistilahkannya dengan kamar-kamar. Jangan sampai kita lancang masuk ke kamar orang lain. 
Adakah upaya menyulut kemarahan umat Islam saat ini?
Kalau orang kafir ingin melemahkan umat Islam, itu sudah aksiomatis (pasti). Dalam Alquran banyak yang menyebutkan demikian. Seperti dalam surah at-Taubah dan surah ash-Shaf.
Di sana digunakan kata yuriduna (senantiasa mereka inginkan) yang merupakan fi'il mudhari'. Artinya, mereka senantiasa secara berkesinambungan dengan cara yang terus diperbaharui.
Jadi, kita tidak bisa menyalahkan mereka karena hal itu sudah aksiomatis sebagaimana disebutkan Alquran. Tinggal kitanya saja yang harus waspada dan membentengi diri. Mereka pasti akan berusaha dengan berbagai macam cara untuk menghabisi umat Islam.
Kalau kita mundur sejengkal, mereka bisa majunya dua jengkal. Mereka meracuni generasi kita agar bisa mengikuti langkah mereka. Sehingga, disebutkan dalam hadis, jika mereka masuk ke jurang atau lubang biawak sekalipun, generasi kita yang sudah teracuni itu pun akan mengikuti mereka.
Apa ini digunakan untuk melemahkan umat sendiri?
Orang kafir sekarang ini tidak hanya menyerang umat Islam melalui peperangan. Kalau melalui peperangan, biasanya menggunakan tangan orang lain. Jangan sangka, ISIS yang sekarang ini ada di Timur Tengah juga merupakan perpanjangan tangan mereka untuk memorak-porandakan persatuan umat Islam di Timur Tengah. Itu adalah salah satu usaha mereka. Sayangnya, masih saja ada umat Islam yang mau terprovokasi dan ikut dengan fanatik orang mereka.
Kemudian, yang paling sering adalah dengan ghazwul fikri. Musuh-musuh Islam ini menebarkan syubhat atau keraguan-keraguan pada umat Islam. Mereka juga menebarkan aliran-aliran sesat.
Betapa banyak umat Islam yang tidak sadar sudah terjerumus dalam pemikiran aliran sesat. Umat Islam menjadi target dan diburu melalui visi-visi pemikiran sampai pada jenis-jenis hiburan. Orang Islam tidak sadar kalau mereka sudah dilalaikan melalui hiburan.
Umat Islam akan marah kalau mereka disebut kafir karena tidak shalat. Tetapi, ketika mereka tidak shalat karena menonton televisi, mereka tenang-tenang saja.
Militansi golongan masih kental di umat Islam Indonesia?
Kalau fanatisme golongan memang sudah menjadi watak manusia. Namun, kalau iman dan pemahaman Islamnya sudah kuat, mereka tidak akan kuat lagi sifat fanatisme golongan ini.
Kita harus menghindari asabiyah (fanatisme) kesukuan, kelompok, ormas, dan lainnya. Kita disuruh fanatismenya hanya kepada Islam saja. Dalam Alquran disebutkan, “Dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam.” (QS Ali Imran [3]: 52). 
Peran MUI sudah cukup mewadahi semua gerakan umat?
Sementara ini, kita melihat MUI sudah berusaha ke arah sana. Saya lihat usahanya sudah maksimal agar menjadikan MUI bisa mewadahi semuanya. Khususnya di pusat dan daerah sudah berusaha untuk itu. Selama masih dalam kerangka keislaman dan kelompok-kelompok yang tidak menyimpang dari prinsip-prinsip syariat Islam, mereka semua harus diwadahi MUI.
Kita jangan membeda-bedakan kelompok-kelompok yang ada dalam umat Islam. Jika perbedaannya hanya pada soal fikih dan metodologi dakwah, tentu mereka adalah bagian dari umat Islam dan berhak untuk diwadahi oleh MUI. Tetapi, kalau kecenderungan kelompoknya sudah lain, seperti kelompok yang sudah menghujat dan mengkafirkan para sahabat, tentu ini harus diwaspadai. Kita harapkan MUI bisa tegas menghadapi kelompok yang menyimpang ini.
Saya perhatikan, kelompok-kelompok yang menyimpang seperti ini biasanya tidak akan diundang (diikutsertakan) oleh MUI. Tapi, kalau ormas-ormas yang berbeda dalam hal-hal bersifat furu'iyah, itu semuanya dinaungi dan diwadahi oleh MUI.
Pesan agar umat Islam agar menjaga persatuan?
Yang utama sekali, umat Islam dituntut untuk mengokohkan keimanan. Kalau keimanannya sudah kokoh, ukhuwahnya akan kokoh. Sebab, ikatan yang hakiki bagi umat Islam ini adalah ikatan keislaman.
Selanjutnya, kita juga dituntut untuk beramal saleh semaksimal mungkin. Tujuannya agar umat Islam ini bisa diberkahi dalam kehidupan duniawi dan seluruh aspek kehidupannya. 
Di samping itu, kita harus terus berusaha untuk mengokohkan masalah pendidikan kepada generasi kita. Pendidikan harus dikokohkan sedari dini. Agar anak-anak kita pada masa mendatang bisa memiliki tauhid yang kuat dan ibadah yang mantap. Dari sinilah akan muncul akhlak yang mulia sehingga mereka tidak akan berani menyakiti saudara mereka sendiri. Mereka akan terpelihara dari sikap mencela, mengganggu, apalagi sampai menumpahkan darah orang lain. 
Sumber:Republika

Komentar