HUKUM KEPALA DAN RAMBUT

Sebelum mempelajari hukum-hukum pada kepala dan rambut, perlu dipahami terlebih dahulu, mana yang dimaksud dengan kepala dan rambut. Kepala dimulai dari tempat tumbuhnya rambut atau dapat juga disebut bagian ubun-ubun, sampai tengkuk .
Sedangkan rambut yang dimaksud dalam bahasan ini adalah rambut yang tumbuh di bagian kepala. 

a. Kemuliaan Kepala Dalam Islam,
kepala merupakan salah satu bagian tubuh yang dianggap mulia. Salah satu alasannya adalah karena di dalam kepala terdapat hakamah. Hal ini seperti dinyatakan dalam hadist beikut :
“Tidaklah dari setiap keturunan Adam, melainkan dikepalanya terdapat hakamah ditangan seorang Malaikat. Apabila ia tawadhu’, dikatakan kepada Malaikat tersebut : “Angkatlah hakamahnya”, sedangkan apabila ia sombong, dikatakan kepada Malaikat tersebut : “Letakkan hakamahnya.” [Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah no 538] 

Hakamah merupakan besi kekang yang berada dihidung kuda, tali kekang tersebut dapat mencegah kuda dari melawan perintah penunggangnya. Dalam terjemah bebas, hakamah dapat diartikan sebagai kontrol atau tali kendali. 

b. Hukum Mencukur dan Memanjangkan Rambut
Bagi laki-laki, dibolehkan mencukur habis rambutnya, terutama saat tahalul saat umrah atau haji. Sedangkan untuk memanjangkan rambut bagi laki-laki, sebagian ulama mengatakan sunah karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kesehariannya berambut panjang, yaitu melebihi telinga sampai menyentuh bahu. 

Dari Bara’ bin Azib, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat rambut melampaui ujung telinga seorang pun yang lebih bagus dari (rambut) Rasulullah.” Dalam suatu riwayat lain, “Rambut Rasulullah sampai mengenai kedua bahunya.” (Hr. Muslim: 2337) 

Namun sebagian besar ulama tidak menghukumi sunah, melainkan mubah (boleh) karena rambut Rasulullah pernah panjang, pendek, maupun dicukur habis. Rasulullah memanjangkan rambut karena kebiasaan masyarakat waktu itu adalah berambut panjang. Jadi, dalam hal ini diperbolehkan laki-laki memanjangkan rambutnya selama tidak melebihi bahu. 
Dilarang pula bagi laki-laki untuk memotong habis rambut dan menyisakan sedikit dibagian depan (model kuncung) atau di bagian samping. Bagi wanita, tidak diperbolehkan mancukur habis rambutnya, tetapi boleh memendekkan rambutnya. Sampai batas apa diperbolehkan? 
Batas paling pendek bagi rambut wanita adalah sampai daun telinga paling bawah. Hal ini merujuk pada beberapa hadist yang menyatakan sampai sebatas apa laki-laki memanjangkan rambut. Artinya, apabila panjang rambut wanita kurang dari ujung bawah daun telinga, dapat dikatakan bahwa ia telah menyerupai laki-laki. 

c. Mengepang Rambut 
Bagi wanita, tidak ada larangan sama sekali untuk mengepang rambut. Bahkan disunahkan untuk di kepang 3 kepangan saat seorang wanita meninggal dunia. Hal ini berdasarkan dalil :

Dari Ummu Athiyah, ia berkata: “ Mandikanlah dengan hitungan ganjil, yaitu tiga,lima atau tujuh kali ”. Dan Ummu Athiyah berkata: “ Lalu kami menyisir rambutnya menjadi tiga kepangan “. (HR.Muslim:1558 ) 

Bagi laki-laki, diperbolehkan mengepang rambut meski tidak terlalu rapi, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun biasa mengepang rambutnya agar tidak mengganggu. Akan tetapi, tidak diperbolehkan bagi laki-laki untuk mengepang selain rambut kepala, misalnya mengepang jenggot. 

d. Menyambung rambut 
Haram hukumnya bagi laki-laki maupun perempuan yang menyambung rambutnya, termasuk menggunakan wig, konde, atau sejenisnya. Larangan ini juga berlaku bagi mereka yang menderita penyakit sehingga menyebabkan rambutnya rontok. 

“Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan meminta disambungkan rambutnya.” (HR. al-Bukhari no. 5941, 5926 dan Muslim no. 5530) 

e. Mencabut Rambut Uban 
Sebagian ulama ada yang menghukumi haram, tetapi sebagian besar (dan ini yang lebih disepakati), mencabut uban hukumnya makruh. Pada hakekatnya, uban tidak perlu dicabut karena uban dapat menjadi penerang atau sumber cahaya di akhirat. Penerang atau cahaya bagi setiap mukmin di akhirat adalah sesuatu yang sangat berharga. 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). 

Hukum mencabut uban ini juga berlaku bagi mereka yang ubannya muncul karena salah produk atau karena stres. Maka alangkah lebih baiknya jika uban dibiarkan saja, tanpa dicabut. 

f. Menyemir rambut 
Menyemir rambut biasanya dilakukan untuk menutupi uban agar tidak perlu dicabut. Menyemir rambut diperbolehkan dengan syarat tidak menggunakan warna hitam. Meskipun pada zaman sekarang, menyemir rambut selain warna hitam justru menimbulkan kesan metal atau tidak sopan.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam. “ HR. Muslim 

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menyemir rambut dengan warna hitam. Sebagian mengatakan makruh dan sebagian mengatakan haram. Adapun sikap yang lebih baik adalah menghindari suatu perbuatan meskipun hukumnya makruh. Menyemir rambut dengan warna hitam diperbolehkan pada zaman Rasulullah untuk pasukan perang agar terlihat lebih muda/gagah sehingga membuat musuh gentar. Menurut Imam Az Zuhri, menyemir rambut dengan warna hitam diperbolehkan untuk orang tua yang sudah rompal gigi-giginya. 

g. Mengusap atau Membasuh Kepala
Menurut Imam Malik, membasuh kepala ketika wudhu dilakukan mulai ubun-ubun sampai tengkuk kemudian balik lagi ke ubun-ubun. Sedangkan menurut Imam Syafi’I dan Imam Hanafi,mengusap sepertiga bagian kepala sudah mencukupi. Bahkan Imam Syafi’i menyatakan bahwa membasuh 3 helai rambut saja sudah mencukupi. Hal ini memberi keringanan, terutama bagi wanita yang memiliki rambut panjang atau ketika harus melepas jilbab saat berwudhu.

h. Meminyaki Rambut 
Bagi laki-laki, disunahkan meminyaki rambut, terutama saat puasa agar tidak terlihat loyo atau lemah. Sunah pula menyisir dan meminyaki rambut saat menerima tamu atau selepas bepergian jauh. 

i. Menutup Kepala
Laki-laki disunahkan menutup kepala dengan imamah (penutup kepala), terutama ketika hendak sholat. Bahkan menurut beberapa ulama, sholat dengan imamah memiliki pahala yang lebih besar. Imamah atau penutup kepala yang dimaksud misalnya seperti peci yang biasa digunakan kaum muslimin. Hindari penggunaan imamah seperti yang digunakan kaum Yahudi. Bagi wanita, wajib hukumnya menutup kepala dengan jilbab ketika sudah baligh, kecuali bagi wanita yang sudah sangat tua dan tidak menimbulkan hasrat bagi laki-laki. Pada zaman Rasulullah, seorang budak justru tidak diperintahkan untuk mengenakan jilbab untuk membedakan dengan wanita merdeka. [ Otede ]

Catatan : Artikel di atas merupakan rangkuman materi PENA IKADI Solo Pekan ke-1 : Fiqh Sehari-hari oleh Ust. Fakhrudin Nursyam Lc. Info lebih lanjut tetang PENA IKADI, hubungi 0857 3033 5716

Komentar